Perebutan angka-angka diselembaran kertas yang bertuliskan " IJAZAH " menjadi problem yang tidak banyak diantara pemikir untuk menganggap hal tersebut menjadi masalah serius. Pengetahuan tidak diukur lagi dari respect ruang-ruang diskusi. Pengetahuan tidak menjadi persoalan utama di ranah pendidikan saat ini. Mendapatkan nilai yang tinggi mereka (mahasiswa) berduyun-duyun melakukan berbagai hal untuk bisa mendapatkan nilai yang memuaskan. Tentunya mereka hanya melakukan hal-hal yang wajib dan pantas untuk mereka lakukan agar mendapatkan nilai yang tinggi. Jika mendapatkan nilai tinggi sesuai persyaratan akademik mereka merasa puas tetapi ketika ilmu pengetahuan dangkal mereka tidak bertindak apa-apa. Padahal toh,ilmu pengetahuan menandakan bahwa kita seorang pemikir, sedangkan ijazah hanya legalitas bahwa kta pernah menempuh pendidikan formal.
Kita telah mengetahui bersama, betapa buruknya sistem pendidikan kita hari ini. Pengembangan dan pengeaktualisasian pengetahuan tidak lagi menjadi prioritas dalam pendidikan. Mahasiswa hanya berpikir bahwa jika mendapatkan nilai tinggi itu telah membuat posisi kita aman. Terutama bagi mahasiswa penerima KARTU INDONESIA PINTAR dengan berbagai aturan yang mengikat. Mahasiswa di tuntut mendapatkan IPK 3.0 sebagai prasyarat utama dalam aturan KIP tersebut sesuai dalam UU KIP tahun 2020. Jika terus menerus seperti ini,maka para sarjanawan akan sangat sulit mengaktualkan ilmu pengetahuan yang diterima selama di bangku perkuliahan. Kenapa tidak,jika sistem pendidikan yang dibuat-buat ini mengharuskan mahasiswa berebut nilai dengan beraneka ragam aturan penilaian yang dibuat oleh tenaga pendidik. Yang paling naas adalah Mahasiswa di tuntut mengerjakan tugas kuliah yang entah outputnya. Mahasiswa telah bersusah payah mengerjakan tugas tetapi tenaga pendidik tidak menerangkan tugas tersebut. Seakan tugas yang diberikan menjadi persyaratan untuk mendapatkan nilai.
Sebenarnya kita kuliah untuk mendapatkan nilai atau mendapatkan ilmu pengetahuan? Dua hal yang paling sering menjadi sorotan di setiap ruang-ruang diskusi mahasiswa. Jika kita menelisik lebih jauh melihat perkembangan mahasiswa ternyata Mahasiswa lebih monoton kuliah untuk nilai dan mendapatkan ijazah bukan kuliah untuk ilmu pengetahuan. Betapa buruknya keadaan mahasiswa hari ini. Mereka tidak lagi menjadi prioritas utama bahwa kita kuliah untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Jika pun kita hanya mendapatkan nilai yang rendah hanya karena jarang menyetor tugas ataupun rendahnya kehadiran namun memiliki pengetahuan sosial yang luas itu telah lebih baik daripada hanya angka-angka diselembaran ijazah tapi tidak memiliki pengetahuan yang cukup. Maka tak heran jika pemerintah kita, sangat kurang pengetahuan tentang pengeksploitasian nasib rakyat karena mereka tidak memiliki pengetahuan sosial yang memadai. Mereka hanya kuliah untuk nilai bukan untuk pengetahuan. Mau bagaimana jika sistem pendidikan itu menuntut Mahasiswa mendapatkan nilai yang tinggi bukan di tuntut untuk menjadi seorang pemikir.
Penulis: ZHEIIDD

Komentar
Posting Komentar