Katamu dunia ini berisik, tak ada ketenangan yang pasti. Dengan ekspresi datar, matamu menatap kearah langit dengan penuh kekosongan. Bola matamu yang hitam pekat itu kau seakan ingin bercerita banyak hal. Dengan suara serakmu kau melantunkan syair-syair puisi yang mencoba merayu alam semesta yang sedang marah. Sesaat semuanya kembali diam, kulihat dirimu tak lagi bersenandung dengan syair-syair puisimu yang tak bisa aku pahami maknanya.
Nafasmu terdengar tergesa-gesa, sepertinya hari ini kamu berlari cukup kencang. Suara detak jantungmu terdengar tak beraturan, apakah hari ini ada hal yang membuatmu ketakutan. Kau hanya menatapku dengan tatapan penuh dengan kekosongan. Tak lama kemudian kau membisikku, pelan namun aku masih mendengarnya dengan jelas.
“ Ku pikir hanya hewan-hewan dihutan yang berisik ternyata manusia juga berisik tapi cara mereka beda. Hewan dihutan berisik karena ia ingin memberitahu kepada kita bahwa alam adalah milik mereka. Sedangkan manusia berisik karena saling menghakimi, saling merebut, bahkan saling membunuh. ” bisikmu dengan uraian air mata yang bercucuran.
Awan hitam berjalan cepat, tanpa kita sadari dinding langit telah dipenuhi olehnya. Rintik hujan mengguyur seluruh tubuh kita. Kita masih saja berdiam diri disini tanpa beranjak meninggalkan pohon beringin yang lapuk dimakan oleh usia. Ku raih tanganmu hendak bermaksud mengajakmu berteduh di gubuk bambu namun kau tak menggubrisnya.
“ Jika kita terus-terusan disini diguyur hujan kita akan sakit. Lalu siapa yang akan merawat kita. Obat penurun panas harganya mahal, kita tidak mampu membelinya. Ayolahhh kita berteduh, orang-orang seperti kita dilarang sakit. ” pintaku dengan nada penuh iba.
Kau masih saja sama, keras kepalamu masih kau rawat dengan baik. Telingamu kau jadikan tuli tapi tidak untuk suara tangis anak-anak jalanan yang ditinggal pergi oleh ibunya. Matamu buta, tapi tak buta jika melihat orang-orang pinggiran yang hidup dibawah kolong jembatan yang beralaskan tikar.
Hujan tak jua berhenti, air mengalir deras dari puncak gunung yang mulai gundul. Diantara derasnya hujan, kau tak henti-hentinya melantunkan syair-syair puisi yang penuh kebencian. Setiap baitnya seakan sedang menceritakan tentang kehidupan seseorang yang sedang marah pada dirinya sendiri sebab ia tak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan orang-orang yang ditindas.
Kau hanyalah setumpukan sampah
Sampah rumahan milik orang kaya
Apa yang hendak kau akan perbuat
Kau tak memiliki kuasa!!
Kau hanyalah manusia dungu
Punya kepala tapi tak neraka
Kau punya mulut tapi bau
Suka menghina, mencela, pendusta
Kau punya tangan tapi tak bisa
Menyelamatkan nyawa orang-orang
Yang dibunuh karena melawan penguasa!!
@Sumber; Menempuh Jalan Sunyi, karya; Zheid/ Irfan

Komentar
Posting Komentar