Masa silam telah berlalu,peradaban manusia telah sampai pada puncaknya. Manusia pada kehidupan komunal primitif manusia hidup dengan nomaden. Kehidupan manusia pada masa tersebut terbilang sangat tradisional. Corak produksi mereka pun masih menggunakan alat produksi tradisional semisalnya kapak batu,tombak,panah dan lain-lainnya. Kultur masyarakat komunal primitif berbeda jauh dengan masyarakat modern. Kultur yang sangat kental pada abad tersebut ia belum terdapat adanya kelompok didalamnya yang mendominasi. Sehingga corak masyarakat terbilang sangat harmonis, hidup bersama-sama tanpa ada persaingan kelas. Pada fase komunal primitif hubungan produksi manusia dilakukan bersama-sama. Dalam konteks untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka berburu yang dilakukan kaum pria sedangkan hasil buruhan dikelola oleh perempuan.
Apakah wanita pada fase tersebut berlomba-lomba untuk cantik?. Jawabannya tidak. Sebab wanita suku melakukan pekerjaan selayaknya laki-laki. Mereka pula yang kebanyakan menjadi petani, bercocok tanam menjadi rutinitas perempuan pada masa komunal primitif. Kecantikan bukan menjadi ukuran pada masa tersebut melainkan ketangguhan wanita berembuk untuk melakukan pekerjaan. Wanita pada abad tersebut telah terbiasa dengan pekerjaan dapur,bertani, berburu dan lain-lain. Mereka tidak memperdulikan produk-produk kecantikan sebagaimana wanita modern yang terlihat hari ini. Corak masyarakat pada fase tersebut mulai terkikis, kehidupan nomaden bukan lagi kultur dalam masyarakat tersebut.
Kelahiran kapitalisme menjadi bencana bagi setiap peradaban manusia. Manusia justru di dorong untuk menjadi individu Konsumentrisme. Berbagai sektor dalam masyarakat hampir sepenuhnya dikendalikan oleh kaum Borjuis. Kehancuran peradaban manusia bukan hanya berada pada hubungan produksi antara pekerja dan pemilik perusahaan. Bagi negara maju, sasaran utama mereka adalah negara berkembang yang notabenennya sebagai negara Konsumentris. Indonesia itu sendiri bagian daripada sasaran kapitalis. Sebelum Indonesia merdeka, Indonesia dinilai oleh negara maju(imprealisme) sebagai pemasok rempah dan menjadi wadah untuk pemasaran produksi negara maju. Kapitalisme-lah yang kemudian menjadikan kecantikan sebagai ukuran dalam kehidupan manusia.
Cantik Ala-ala kapitalis benarkah ada?
Boleh kita melihat bagaimana kemudian wanita-wanita modern berlomba-lomba untuk terlihat cantik. Berbagai jenis produk kecantikan dipoles diwajahnya. Iklan-iklan kecantikan sering dipertontonkan dalam iklan televisi. Apa hubungannya dengan kapitalis?. Ketika manusia mulai ketergantungan dengan produksi kapitalis apapun yang diproduksi oleh kapitalis maka manusia tersebut akan dikomsumsi. Seperti halnya wanita,ketika tidak terlihat putih,glow-up, langsing, dan lain sebagainya.
Wanita cenderung akan merasa tidak percaya diri dengan ukuran kecantikan yang terlihat dalam dirinya. Sehingga apa yang terjadi? Wanita akan melakukan segala hal untuk mempercantik dirinya. Pernahkah kita mendengar cara kapitalis menghegemoni kesadaran perempuan?. Mereka (kapitalis) melakukan hegemoni dengan menyeragamkan cara berpikir manusia terkhususnya perempuan. Mindset berpikir perempuan,ketika tidak cantik maka kau akan merasa asingkan atau tidak masuk dalam kriteria penilaian laki-laki.
Penyakit sosial inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh kapitalis untuk mengeksploitasi kesadaran perempuan untuk terus mengasumsi produk kecantikan. Ketimpangan inilah yang kemudian membuat perempuan ketergantungan dengan produk kecantikan dan menjadikan perempuan kehilangan kepercayaan diri. Ukuran cantik hari ini adalah cantik dengan polesan kapitalis. Selain daripada itu perilaku rasis akan terjadi sebab warna kulit menjadi ukuran dalam peradaban modern saat ini. Perempuan yang berkulit hitam akan menjadi Bullyan bagi mereka yang merasa cantik dengan polesan produk kapitalis.
Cantik itu apa sih? Mengapa cantik mesti di identikkan dengan warna kulit,style,glowing, langsing,dan mancung. Mengapa cantik itu tak di ukur melalui perilaku, akhlak, ilmu agama,dan tata Krama perempuan. Lagi-lagi hal pandangan ini dipengaruhi oleh kapitalis. Wajar-wajar saja perempuan sering mengatakan seperti ini “ Cantik itu sebenarnya luka”. Bagaimana tidak, sebab perempuan lebih baik mempercantik diri daripada ilmu agama.

Memang bung yang satu ini๐
BalasHapusHehehehe masih amatir menulis.๐
BalasHapus