Perenungan menjadi senjata untuk aku yang bernasib malang
Dibawah pohon Cemara tubuh dibentangkan sembari menatap
Langit dengan raut wajah yang sedih
Aku kerap berbisik kepada alam semesta,
Berbagai tuntutan aku lontarkan untuk sang pemilik alam semesta ini.
Kata-kata cacian terus menimpali diriku
Berbagai hukuman terus aku lakukan
Mengutuk diri agar tak menyesali hidup
Membenci tentunya aku benci Bung,bisikku kepada alam
Siapa pula yang betah dengan cekaman hukum sosial
Siapa pula diantara kita yang betah menempuh jalan sunyi
yang sedang aku tempuh saat ini.
Apakah kau tak merasa sesak?
Apakah kau tak merasa muak?
Apakah kau ingin hidup dengan genangan air mata di pipi?
Iya, kau benar tak ada yang menyukainya seperti halnya dengan diriku
Nyanyian burung-burung yang tak bertuan,mana mungkin
Sang burung tak mengejek si anak desa yang hanya tamatan sekolah sederajat (SD)
Sepoi-sepoi angin hanya menyejukkan akal
Bagi seorang yang ulung seperti diriku.
Bukankah aku berhak menyandang pendidikan yang lebih tinggi?
Andaikan aku seorang mahasiswa seperti anak tuan dan puang
Tak mungkin kau mengerdilkan anak petani sepertiku
Andaikan aku bukan anak petani,tak mungkin kau lancang merendahkanku
Jika saja aku tak memegang arit setiap pagi buta,
Mungkin kau mengundangku ke istanamu yang megah
Apakah kau menganggap ini adalah keadilan sosial wahai tuan dan puang?
Aku tau kau sedang tertawa membaca tulisan seorang anak desa
Lantas kau merasa bangga setelah membaca tulisan ini?
Sebab kau dan aku berada pada klas sosial yang berbeda.
Tentunya kau akan tertawa, sebab tawa penguasa adalah
nyanyian yang paling merdu di negeri ini
Sedangkan tangis si anak miskin adalah nyanyian yang paling buruk.
Karya: Zheiidd
Rumpa,05 Juni 2023

Komentar
Posting Komentar